Sabtu, 24 April 2010

EKONOMI MAKRO

PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
Dalam teori mikro sering di jumpai istilah pasar persaingan murni( pure competition market) dan pasar persaingan sempurna ( perfect competition market). Pada prinsinya kedua jenis pasar ini sama dan perbedaannya relative sedikit.
Suatu pasar dikatakan sebagai pasar persaingan murni adalah pasar yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Penjualnya banyak;
2. Barang yang dijual bersifat homogen;
3. Barang yang dijual seorang penjual merupakan bagian kecil dari seluruh barang yang ada dipasar tersebut;
4. Setiap penjual mempunyai kebebasan masuk atau keluar dari pasar.

Sedangkan pasar persaingan sempurna adalah pasar yang mempunyai ciri-ciri seperti pada pasar persaingan murni, akan tetapi masih ada beberapa ciri yang harus dipenuhi yaitu:
1. Pengetahuan penjual dan pembeli tentang keadaan pasar sempurna/ lengkap dan
2. Mobilitas sumber ekonomi di seluruh pasar adalah bebas dan tidak ada hambatan.
Konsep pasar persaingan sempurna lebih luas dibandingkan dengan konsep pasar persaingan murni. Oleh karena itu dalam teori ekonomi mikro lebih sering di pergunakan istilah pasar persaingan sempurna.
Seorang produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna dikatakan pada kondisi keseimbangan apabila dari output yang ia jual dapat diperoleh keuntungan maksimum/ kerugian minimum.
Keuntungan maksimum /kerugian minimum bagi seorang produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna di capai apabila di penuhi kondisi sebagai berikut:
1. Harga output (P) sama dengan penerimaan marginal (MR) sama dengan biaya marginal (MC)
Atau secara matematis dapat di tulis :
P= MR = MC
2. Kemiringan kurva permintaan marginal ( slope MR) lebih kecil dari pada kemiringan kurva biaya marginal ( slope MC). Atau secara matematis dapat ditulis


Dalam pasar persaingan sempurna, kurva penawaran seorang produsen di tunjukan oleh kurva biaya produksi marginal ( kurva MC) kekanan atas yang dimulai dengan titik gulung tikar ( shut -down point ) bagi produsen tersebut. Kurva AB pada gambar 3.1 menunjukkan kurva penawaran bagi seorang produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna.

Titik gulung tikar ( shut-down point) bagi seorang produsen terjadi apabila harga output (P) sama dengan biaya variable rata-rata( AVC). Pada kondisi ini apabila produsen tetap berproduksi dan dapat menjual semua output yang dihasilkan, maka produsen tersebut akan rugi sebesar biaya tetapnya. Kerugian sebesar biaya tetap itu juga dialami oleh produsen tersebut apabila ia tidak berproduksi.
Apabila harga output lebih kecil daripada biaya variable rata-rata (AVC), maka produsen tersebut lebih baik menutup usahanya. Karena apabila ia menutup usahanya, maka ia rugi sebesar biaya tetapnya saja. Sedangkan apabila ia meneruskan usahanya, maka ia akan rugi sebesar biaya tetap ditambah dengan sebesar biaya variable, yaitu selisih biaya variable rata-rata dengan harga output.
Dengan demikian kurva permintaan seorang produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna adalah kurva MC yang terletak sebelah atas kurva AVC dan mempunyai kemiringan ( slope) yang positif.
Keseimbangan produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna terjadi pada saat:
P= MC = AR = D
Bagian yang diarsir pada gamabar 3.2 adalah keuntunganyang diperoleh produsen dan bagian yang di arsir pada gambar 3.3 adalah kerugian yang diderita oleh produsen. P*dan Q*. berturut turut adalah harga dan jumlah barang keseimbangan konsumen.


Kurva penawaran pasar pada pasar persaingan sempurna adalah penjumlahan secara horizontal dari semua penawaran produsen yang beroperasi pada pasar tersebut.
Dalam jangka panjang, keseimbangan produsen terjadi apabila produsen tersebut berproduksi pada skala ( scale of plant) yang optimal. Pada kondisi ini produsen dapat memenimalkan biaya total jangka panjang ( long- run total cost / LTC) dan juga meminimalkan biaya rata-rata jangka panjang (long-run average cost/ LAC).
Keseimbangan jangka panjang bagi produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna terjadi pada tingkat output sedemikian rupa sehingga biaya marginal jangka pendek ( SRMC) sama dengan biaya marginal jangka panjang ( LRMC) sama dengan biaya rata-rata jangka pendek ( SRAC) sama denga biaya rata-rata jangka panjang ( LRAC) sama dengan harga output (P) sama dengan penerimaan marginal (MR) sama dengan penerimaan rata-rata (AR).
Atau secara matematis dapat di tulis sebagai berikut= LRMC = SRAC = LRAC = P MR = AR
dalam jangka panjang, produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna tidak akan mampu menghasilkan laba murni ( pure profit ) / laba lebih ( excess profit) lagi. Akan tatapi ia hanya mampu memperoleh laba normal profit) saja.
Laba murni atau laba lebih yang di peroleh produsen di sebabkan oleh permintaan total lebih besar dari biaya total ( TR> TC). Apabila pada pasar persaingan sempurna terdapat excess profit, maka akan mendorong perusahaan yang sudah ada di pasar tersebut menambah kapasitas produksinya. Atau mungkin juga ada perusahaan yang baru masuk pada pasar tersebut ( ingat: pada pasar persainngan sempurna perusahaan bebas keluar masuk pasar). Apabila ini terjadi, maka jumlah barang yang ditawarkan akan meningkat dan harga akan turun. Akibat selanjutnya penerimaan total produsen akan menurun. Penurunan penerimaan total ini sampai pada tingkat dimana penerimaan total sama dengan biaya (TR=TC). Ini menunjukan bahwa produsen tersebut hanya menerima laba normal ( normal profit ). Grafik 1 pada gambar 3.4 menunjukan keadaan dimana seorang produser yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna memperoleh laba normal.









Kurva penawaran jangka panjang seorang produsen yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna tidak bisa diidentifikasi. Ada tiga kemungkinan bentuk kurva penawaran seorang produsen pada pasar persaingan sempurna yaitu:
1. Kurva penawarran jangka panjang mempunyai lereng positif. Ini terjadi apabila pasar mempunyai struktur ongkos yang menaik. Keadaan ini mencerminkan keadaan dimana apabila output bertambah, maka harga input naik.
2. Kurva penawaran jangka panjang berbentuk garis lurus sejajar dengan sumbu jumlah barangyang ditawarkan. Keadaan imi mencerminkan bahwa apabila output naik maka tidak akan memperoleh harga input.
3. Kurva penawaran jangka panjang mempunyai lereng negative. Ini terjadi apabila pasar mempunyai struktur ongkos yang menurun. Keadaan ini mencerminkan keadaan dimana apabila harga output bertambah, maka harga input makin murah.
Secara umum kurva penawaran seorang produsen pada pasar persaingan sempurna di tunjukan oleh kurva MC yang berada di sebelah atas titik tutup usaha(shut down point). Karena keadaan produsen menawarkan barangnya pada berbagai tingkat harga di sepanjang kurva tersebut. Kurva AB pada gambar 3.1 menunjukan kurva penawaran seorang produsen pada pasar persaingan sempurna.




Pasar persaingan monopolistic
Pasar persaingan monopolistic adalah suatu pasar dimana terdapat lebih dari satu produsen. Apabila hanya terdapat dua produsen maka pasar tersebut dinamakan duapoli, sedangkan apabila lebih dari dua produsen disebut pasar oligopoly. Walaupun dalam pasar ini terdapat beberapa produsen, tetapi setiap produsen masih mampu mempengaruhi pasar yaitu dengan adanya diferensiasi produk ( misalnya pembedaan merek, bungkus dan sebagainya).
Produsen yang menjual outputnya dalam pasar persaingan monopolistic dalam jangka pendek, berada pada tingkat output optimum apabila produsen tersebut menghasilkan output dimana:
1. Penerimaan produksi marginal( MR) sama dengan biaya produksi marginal( MC). Atau secara matematis ditulis :
MR =MC
2. Besarnya slope MR < slope MC
Posisi optimum bagi produsen yang beroperasi pada pasar persaingan monopolistic yang dikemukakan oleh Chamberlin dibedakan menjadi 3 kasus:
1. Usaha mencapai posisi optimum dengan masuknya produsen baru
2. Usaha mencapai posisi optimum melalui persaingan harga, dan
3. Usaha mencapai posisi optimum memlalui persaingan dan bebas keluar masuk pasar.
Dalam pasar oligopoly masing-masing perusahaan tidak tahu persis reaksi apa yang akan diambil oleh produsen lain apabila salah satu produsen yang ada di dalam pasar melakukan kebijaksanaan. Oleh karena itu ada beberapa macam model yang menggambarkan keadaan pasa oligopoly antara lain:
1. Cournot, Bertrand, chamberlin, permintaan patah( kinked-demand) dan Stackelberg untuk model pasar olgopoli yang tidak bergabung, dan
2. Kartel dan lepemimpinan untuk pasar oligopoli yang bergabung.
Dalam model Cournot dianggap bahwa barang yang dihasilkan bersifat homogeny dan struktur biaya produksinya sama dengan biaya produksi marginal = 0 secara umum dapatlah diutarakan bahwa apabila di pasar ada n perusahaan, maka masing-masing perusahaan akan menghasilkan output sebanyak :
Dari seluruh permintaan pasar. Dan secara keseluruhan produsen-produsen akan menghasilkan output sebanyak:

Dalam hal ini jelas semakin banyak perusahaan yang terdapat dipasar, maka akan semakin banyak pula jumlah output yang ditawarkan dipasar, dengan tingkat harga yang lebih murah. Output keseimbangan dalam model ini mendekati output keseimbangan pada pasar persaingan sempurna.
Dalam model Bertrand dianggap masing-masing perusahaan memperkirakan perusahaan pesaingnya tetap mempertahankan tingkat harga jual output, apapun yang kebijaksanaan yang dilakukan pesaingnya. Dalam model Bertrand ini menentukan posisi keseimbangan (optimum) yang stabil dari pasar. Posisi keseimbangan ditentukan oleh perpotongan antara dua kurva reaksi yang dimiliki masing-masing perusahaan. Dalam model Bertrand ini tidak mengarah pada tingkat keuntungan pasar yang maksimum serta pada tingkat yang lebih rendah daripada posisi itu. Hal ini disebabkan karena anggapan bahwa masing-masing produsen tidak pernah memanfaatkan pengalaman-pengalamannya pada masa lalu.
Pada pasar oligopoly model Chamberlin dinyatakan bahwa keseimbangan stabil di pasar terjadi apabila di pasar tersebut disepakati hanya ada satu tingkat harga. Hal ini karena model Chamberlin menganggap bahwa produsen menyadari diantara mereka ada saling tergantung satu sama lain. Penetapan harga ini bertujuan untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan masing-masing. Dalam model ini menganggap tidak ada perusahaan baru yang masuk ke dalam pasar. Apabila ada perusahaan baru yang masuk ke dalam pasar, masa keseimbangan stabil akan terganggu dan ini tidak bisa di pecahkan melalui mekanisme ala pasar monopoli.
Pasar oligopoly model kurva patah di formulasikan oleh Seezy. Dalam model ini keseimbanga perusahaan di tentukan pada waktu garis permintaaan yang dihadapi produsen berbentuk patah.karena pada tingkat ini berarti MR produsen sama besar dengan MC nya, memang secara umum dapat dikatakan bahwa kurva MR dapat berpotongan dengan kurva MC dimana saja pada bagian kurva MR yang patah. Hal ini bermakna bahwa adanya perubahan struktur biaya produksi yang tidak akan berpengaruh pada tingkat output dan harga keseimbangan perusahaan. Kurva permintaan bagi perusahaan yang berbentuk patah mencerminkan perilaku oligopolies, yaitu apabila ia menurunkan tingkat harga jual,maka ia mengharapkan produsen pesaingnya kan mengikuti kebijaksanaannya. Tetapi sebaliknya apabila ia menaikkan harga jual, maka ia mengharapkan pesaingnya tidak akan mengikuti kebijaksanaannya.
Bentuk kurva permintaan yang patah adalah manifestasi dari adanya ketidakpastian oligopolies terhadap perkiraaan perusahaan pesaing, apabila ia menurunkan tingkat harga jual. Model kurva permintaan patah ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa dalam pasar oligopoly tingkat harga output yang terjadi di pasar cendrung tetap atau tidak berubah- ubah.
Pasar oligopoly model Stackelberg pada intinya beranggapan adanya salah satu produsen yang cukup kuat posisinya, sehingga ia dapat memaksa produsen lain untuk mengikuti segala ketentuannya. perusahaan yang kuat ini berfungsi sebagai pemimpin untuk menentukan keseimbangan yang stabil.
Namun apabila tedapat dua perusahaan ynag kuat, maka posisi keseimbangan stabil akan teganggu. Dalam keadaan ini kedua perusahaan tersebut akan bersaing untuk menjadi pemimpin dipasar, yakni dengan jalan perang harga (price war). Perang harga ini akan terhenti apabila salah satu mereka bersedia jadi pengikut dan posisi keseimbangan stabil akan kembali.
Kartel adalah gabungan dari beberapa produsen yang menjual outputnya di pasar oligopoly. Tujuan dari kartel ini adalah memaksimumkan keuntungan perusahaan, perusahaan anggotanya, dengan jalan menentukan kebijaksanaan- kebijaksanaan yang berlaku bagi seluruh perusahaan anggota Kartel. Dengan membentuk Kartel ini maka kebijaksanaan-kebijaksanaan dapat diarahkan menyerupai pasar monopoli. Kalau di tinjau dari segi tujuannya, Kartel dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Kartel dengan tujuan memaksimumkan keuntungan, dan
2. Kartel yang bertujuan membagi pasar
Keadaan semacam ini mirip dengan pasar monopoli yang mempunyai beberapa pabrik ( multiplant-monopoly).
Biasanya masalah yang di hadapi kartel bukan saja menentukan output yang dapat memaksimumkan keuntungan, tetapi juga membagi jatah output yang harus diproduksi oleh masing-masing perusahaan anggota dan juga pembagian keuntungan diantara mereka. Pada prinsipnya posisi optimum di capai pada tingkat output dimana MR kartel di potong oleh MC-nya dari bawah.
Keberhasilan suatu kartel biasanya tergantung kewibawaan dari kartel dimata perusahaan-perusaan anggotanya. Apabila kewibawaan ini tidak ada, maka ada kecendrungan dari perusahaan-perusahaan anggota melanggar perjanjian yang telah di sepakati. Keadaan ini akan mengakibatkan kegagalan kartel mencapai tujuannya.
Bentuk lain dari penggabungan produsen yang menjual outputnya Dipasar oligopoly adalah model kepemimpinan harga ( price leadership). Dalam model ini mengatakan, perusahaan mempunyai posisi yang paling kuat akan bertindak sebagai leader( pemimpin), sedang perusahaan yang lain bertindak sebagai follower (pengikut). Dalam model ini ada tiga macam bentuk penggabungan, yaitu:
1. Penggabungan dengan model kepemimpinan harga oleh perusahaan yang dengan struktur ongkos terendah.
2. Penggabungan dengan model kepemimpinan harga oleh perusahaan yang dominan, dan
3. Penggabungan dengan model kepemimpinan harga oleh perusahaan yang bersifat barometris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar